tugas tradisi dan kearifan lokal

TRADISI DAN KEARIFAN LOKAL BEBERAPA DAERAH

 Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah “Tradisi dan Kearifan Lokal”
Disusun Oleh:
Puspa Setianingtyas            (09416244044)

PRODI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
TAHUN 2010

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt, karena atas segala rahmat dan inayahNya kami dapat menyelesaikan Makalah mengenai Tradisi dan Kearifan Lokal yang tumbuh dan berkembang di daerah kelompok kami. Makalah ini disusun dan dipersiapkan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Tradisi dan Kearifan Lokal. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari kekurangan dan keterbatasan kami sebagai penyusun. Ibarat “tak ada gading yang tak retak”, kami senantiasa memerlukan kritik dan saran  yang membangun guna meningkatkan daya cipta dan daya guna makalah ini. Semoga makalah yang telah kami susun ini dapat bermanfaat bagi semua yang membacanya.

Yogyakarta, 9 Maret 2010

Tim Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            LATAR BELAKANG MASALAH
Kearifan lokal adalah usaha manusia denagn akal budinya atau pikirannya untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek maupun peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu, misalnya terhadap lingkungan, tradisi, peristiwa insidental. Sedangkan Local Genius yang juga disebut cultural identity yaitu merupakan identitas atau kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak kemampuan sendiri.
Ciri-ciri local genius menurut Moendardjito antara lain:
1.      Mampu bertahan terhadap budaya luar
2.      Memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar
3.      Mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar kedalam budaya asli
4.      Mempunyai kemampuan mengendalikan
5.      Mampu memberi arah pada perkembangan bangsa
Kearifan lokal tidak sekedar sebagai acuan tingkah laku, melainkan mampu mendinamisasi kehidupan masyarakat yang beradab. Kearifan lokal sebagai sumber energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup bersama secara dinamis dan damai. Kearifan loal merupakan entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya. Setiap masyarakat mempunyai kearifan loakl untuk menjaga habitat dimana dia tinggal. Akhir dari sedimentasi kearifan lokal akan mewujudkan tradisi dan agama. Biasanya tercermin dalam kebiasaan hidup masyarakat yang telah berlangsung lama. Kemunculan kearifan lokal merupakan hasil dari proses trial and error dari berbagai macam pengetahuan empiris maupun non empiris.

1.2       RUMUSAN MASALAH
1.      Identifikasikan kearifan lokal yang ada di daerah anda
2.      Jelaskan upaya yang anda lakukan dalam menjaga kearifan lokal tersebut
3.      Jelaskan pengaruh lintas budaya dan globalisasi terhadap perubahan kearifan lokal nusantara

1.3.      TUJUAN
Laporan penelitian ini disusun dengan tujuan:
1.      Mengetahui kearifan lokal yang ada di daerah kami
2.      Mengetahui upaya yang dilakukan dalam menjaga kearifan lokal tersebut
3.      Mengetahui pengaruh lintas budaya dan globalisasi terhadap perubahan kearifan lokal nusantara

BAB II
PEMBAHASAN

11.1          BENTUK KEARIFAN LOKAL DAERAH
·        Purbalingga
Tradisi Mretelung dan Bawon Petani Purbalingga
Bagi masyarakat pedesaan di Jawa, bertani tidak sekadar mata pencarian, tetapi juga media interaksi sosial. Maka, tak heran tradisi budaya tertentu tercipta dari interaksi sosial dalam kegiatan bertani. Ini seperti terlihat dalam tradisi mretelung, bawon, dan ngasak saat panen pada masyarakat di Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Mretelung dilakukan sehari, kadang sampai dua hari, tergantung dari luas lahan yang dipanen. Upah yang mereka dapatkan disebut bawon.
Tradisi Begalan Purbalingga
Seni tradisional begalan biasa dipentaskan di tempat acara pernikahan, khususnya jika pihak pengantin pria maupun wanita tergolong sukerta sehingga haris diruwat. Pengantin yang harus diruwat, menurut tradisi Jawa,  yaitu bila anak mbarep  menikah dengan anak mbarep atau ragil dengan ragil, atau mbarep dengan ragil dan sebaliknya. Atau bisa juga jika ibunya pengantin wanita sedang hamil ketika pernikahan itu digelar, sehingga perlu diruwat dengan nanggap begalan. Seni begalan berfungsi untuk ngruwat pasangan pengantin yang dilanda masalah, supaya kelak menemukan kebahagiaan.
Cokekan Karawitan Purbalingga
Kesenian tradisional jenis cokekan mungkin bagi khlayak umum banyak yang belum mengetahui, namun bagi kalangan pencinta karawitan hal itu sudah biasa. Cokekan adalah karawitan yang tidak lengkap dalam menggunakan alat musiknya, yakni hanya menggunkan beberapa alat musik saja seperti kendang, sinter,gender dan sinden. Namun hal tersebut tidak menguranggi keindahan suara manakala cokekan dimainkan.
Upaya menjaga kearifan lokal daerah Purbalingga
Penyelenggaraan Gelar Budaya, Pariwisata, dan Purbalingga Expo 2009 pada Peringatan Hari Jadi Purbalingga yang ke-179 tahun ini akan berbeda dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Tidak sekedar lebih meriah karena melibatkan belasan jenis kesenian tradisi dan kontemporer, namun akan melibatkan seni tradisi dari wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Penyelenggaraan gelar budaya tersebut memang telah menjadi kegiatan tahunan daerah Kabupaten Purbalingga yang bertujuan agar tradisi dan kearifan lokal Purbalingga tetap terjaga kelestariandan perkembangannya.
Daya Dorong Budaya Lokal
Bila gelar budaya ini bertujuan untuk memancing dan mendorong tumbuh kembang kesenian tradisi dan kontemporer di Kabupaten Purbalingga, seharusnya pemerintah daerah bertindak adil dengan sebisa mungkin keterwakilan seni tradisi dan kontemporer dengan kriteria penilaian tertentu. Bila tidak mampu, jangan dinas menjadi penyelenggaranya. Demikian yang dimaksud pemerintah daerah bertindak sebagai event organizer bukan sebagai fasilitator.
Gedung Kesenian
Dan gelar budaya yang merupakan hajatan budaya besar di Kabupaten Purbalingga tidak hanya bersifat seremonial semata tapi memperhatikan keberlanjutannya. Tentu bukan keberlanjutan yang bersifat seremonial namun mampu menyentuh akar seni tradisi maupun kontemporer di wilayah Purbalingga sehingga terasa manfaatnya bagi masyarakat luas dan harapan mengundang wisatawan pun bakal terwujud.
· Solo
Grebeg Mulud

Ritual untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW ini dimeriahkan berbagai pertunjukan dan pasar rakyat yang memasarkan souvenir dan kerajinan tangan lainnya. Ada pula pameran benda-benda pusaka di PagelaranKeraton. Puncak dari perayaan Sekaten adalah keluarnya Gunungan  dari Keraton menuju Masjid.
 Tempat : Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta dan Masjid Agung Surakarta

Kirab Pusaka 1 Suro (1 Muharam 1431 H)

Perayaan tahun baru menurut kalender jawa.Malam satu Suro jatuh mulai terbenam matahari pada hari terakhir bulan terakhir kalender jawa (30/29 Besar) sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya (1 Suro). Di Mangkunegaran acara dimulai pada sekitar pukul 19.00(07.00 malam. Saat itu dilakukan jamasan (pencucian) benda pusaka kemudian dikirabkan keliling pura Mangkunegaran. Di Keraton Surakarta, ritual 1 Suro juga dilakukuan kirab benda-benda pusaka mengelilingi Benteng Keraton pada dini hari. Yang menarik adalah ikut sertanya beberapa kerbau bule (kerbau albino) sebagai cucuk lampah (yang mengawali ).

Tempat : Pura Mangkunegaran dan Keraton Kasunanan Surakarta.
   
·      Purworejo
NGAYU SEBAGAI TRADISI DI DAERAH GRABAG PURWOREJO
Indonesia sangat kaya akan berbagai tradisi dan kebudayaan, namun antara daerah satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Seperti contohnya sebuah tradisi yang ada di daerah Jawa Tengah, tepatnya di kota grabag kabupaten purworejo.
Di daerah ini terdapat sebuah tradisi yang biasa disebut dengan istilah “NGAYU”. Mungkin bagi masyarakat luar daerah purworejo asing mendengar  dan bertanya arti kata tersebut. Ngayu adalah sederet acara dan syukuran yang di lakukan sebelum acara nikahan. Acara ini biasa diadakan jika sebuah keluarga akan menikahkan anak perempuanny untuk yang pertama kali. namun jika dalam keluarga tersebut anak pertamanya adalah anak laki-laki maka tidak perlu diadakan acara ngayu tersebut.
Dalam acara ini banyak sekali hal yang dilakukan, diantaranya membuat kayu bakar untuk memasak ketika hari pernikahan itu tiba, membagi makanan kepada tetangga sekitar dan bersih-bersih rumah dan sekitarnya.
Dalam kegiatan ini gotong royong warga sekitar sangat dibutuhkan. Para ibu-ibu bertugas untuk memasak di dapur sedangkan bapak-bapak membantu membuat dapur baru di sekitar rumah yang akan digunakan untuk memasak pada perayaan pernikahan nantinya. Setelah semua itu selesai  para ibu-ibu mengeluarkan lesung dengan alunya kemudian memainkannya hingga menghasilkan suara musik yang enak di dengar, warga sekitar menyebutnya dengan istilah  “Gojegan”. menurut ceritanya semua itu dilakukan supaya acara pernikahan nantinya akan lancar tanpa ada suatu halangan dan akan membawa kesenangan.
Pada acara ini anak kecil atau balita biyasanya datang dan minta nasi liwet kemudian memakannya. Menurut mitosya hal tersebut dilakukan untuk menolak sawan pengantin. Biasanya kalau dalam acara ngayu ada anak yang tidak datang maka nanti pada saat acara pernikahan anak tersebut tidak boleh dibawa karena jika dibawa anak itu akan sakit yang biasa di sebut dengan sawan pengantin itu. Setelah semua kegiatan itu selesai maka di tutup dengan acara kenduren, dan biasanya dilakukan setelah sholat magrib. Kemudian Pada saat hari pernikahan itu tiba malam harinya calon pengantin wanita membagi-bagikan dawet  kepada para warga yang datang kesana. 
·      Kulon Progo
Tari angguk
Tari angguk yang kemudian menjadi tarian khas kulonprogo berasal dari tari dolalak di purworejo. Dibawa masuk dan mulai hidup di kulon progo pada tahun 1950. Jumlah penari angguk antara 12-20 penari. Memakai kostum seragam ala opsir belanda dengan celana pendek dan baju lengan panjang dengan warna tua brtopi dan kaos kaki panjang tanpa sepatu. Instrumen musik terdiri dari: kendang, saron, terbang, bedug, bas dan keyboard. Pentas angguk dibagi menjadi beberapa babak, setiap babak dibagi tiga bagian. Tahap pertama semua penari tampil ke pentas, menggelar potensi dan daya tarik angguk yang bersangkutan, memakai kostum, kelenturan gerak, kekompakan, blocking, musik pengiring, dan kemampuan penarinya. Tahap kedua pengiring menyayikan lagu khas angguk untuk memanggil roh. Tahap ketiga, ketika roh meninggalkan penari ada lagu khusus untuk mengantar kepergian roh.

·        Yogyakarta
Sekaten Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta INDONESIA
Di wilayah Kotamadya Yogyakarta, terdapat upacara adat yang disebut sebagai Sekaten atau yang lebih dikenal dengan istilah Pasar Malam Perayaan Sekaten karena sebelum upacara Sekaten diadakan kegiatan pasar malam terlebih dahulu selama satu bulan penuh. Tradisi yang ada sejak zaman Kerajaan Demak (abad ke-16) ini diadakan setahun sekali pada bulan Maulud, bulan ke tiga dalam tahun Jawa, dengan mengambil lokasi di pelataran atau Alun-alun Utara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Asal usul istilah Sekaten berkembang dalam beberapa versi. Ada yang berpendapat bahwa Sekaten berasal dari kata Sekati, yaitu nama dari dua perangkat pusaka Kraton berupa gamelan yang disebut Kanjeng Kyai Sekati yang ditabuh dalam rangkaian acara peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Pendapat lain mengatakan bahwa Sekaten berasal dari kata suka dan ati (suka hati, senang hati) karena orang-orang menyambut hari Maulud tersebut dengan perasaan syukur dan bahagia dalam perayaan pasar malam di Alun-alun Utara.
Pendapat lain mengatakan bahwa kata Sekaten berasal dari kata syahadataini, dua kalimat dalam Syahadat Islam, yaitu syahadat taukhid (Asyhadu alla ila-ha-ilallah) yang berarti "saya bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah" dan syahadat rasul (Waasyhadu anna Muhammadarrosululloh) yang berarti "saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah".
Upacara Sekaten dianggap sebagai perpaduan antara kegiatan dakwah Islam dan seni. Pada awal mula penyebaran agama Islam di Jawa, salah seorang Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga, mempergunakan kesenian karawitan (gamelan Jawa) untuk memikat masyarakat luas agar datang untuk menikmati pergelaran karawitan-nya dengan menggunakan dua perangkat gamelan Kanjeng Kyai Sekati. Di sela-sela pergelaran, dilakukan khotbah dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Bagi mereka yang bertekad untuk memeluk agama Islam, diwajibkan mengucapkan kalimat Syahadat, sebagai pernyataan taat kepada ajaran agama Islam.
Di kalangan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, muncul keyakinan bahwa dengan ikut merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang bersangkutan akan mendapat pahala dari Yang Maha Agung, dan dianugerahi awet muda. Sebagai syarat, mereka harus menguyah sirih di halaman Masjid Agung Yogyakarta, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan Sekaten. Oleh karena itu, selama perayaan, banyak orang berjualan sirih dengan ramuannya, nasi gurih beserta lauk-pauknya di halaman Kemandungan, di Alun-alun Utara atau di depan Masjid Agung Yogyakarta. Bagi para petani, dalam kesempatan ini memohon pula agar panenannya yang akan datang berhasil. Untuk memperkuat tekadnya ini, mereka membeli cambuk untuk dibawa pulang.
Sebelum upacara Sekaten dilaksanakan, diadakan dua macam persiapan, yaitu persiapan fisik dan spiritual. Persiapan fisik berupa peralatan dan perlengkapan upacara Sekaten, yaitu Gamelan Sekaten, Gendhing Sekaten, sejumlah uang logam, sejumlah bunga kanthil, busana seragam Sekaten, samir untuk niyaga, dan perlengkapan lainnya, serta naskah riwayat maulud Nabi Muhammad SAW.
Gamelan Sekaten adalah benda pusaka Kraton yang disebut Kanjeng Kyai Sekati dalam dua rancak, yaitu Kanjeng Kyai Nogowilogo dan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Gamelan Sekaten tersebut dibuat oleh Sunan Giri yang ahli dalam kesenian karawitan dan disebut-sebut sebagai gamelan dengan laras pelog yang pertama kali dibuat. Alat pemukulnya dibuat dari tanduk lembu atau tanduk kerbau dan untuk dapat menghasilkan bunyi pukulan yang nyaring dan bening, alat pemukul harus diangkat setinggi dahi sebelum dipuk pada masing-masing gamelan.
Sedangkan Gendhing Sekaten adalah serangkaian lagu gendhing yang digunakan, yaitu Rambu pathet lima, Rangkung pathet lima, Lunggadhung pelog pathet lima, Atur-atur pathet nem, Andong-andong pathet lima, Rendheng pathet lima, Jaumi pathet lima, Gliyung pathet nem, Salatun pathet nem, Dhindhang Sabinah pathet em, Muru putih, Orang-aring pathet nem, Ngajatun pathet nem, Batem Tur pathet nem, Supiatun pathet barang, dan Srundeng gosong pelog pathet barang.
Untuk persiapan spiritual, dilakukan beberapa waktu menjelang Sekaten. Para abdi dalem Kraton Yogyakarta yang nantinya terlibat di dalam penyelenggaraan upacara mempersiapkan mental dan batin untuk mengembang tugas sakral tersebut. Terlebih para abdi dalem yang bertugas memukul gamelan Sekaten, mereka mensucikan diri dengan berpuasa dan siram jamas.
Sekaten dimulai pada tanggal 6 Maulud (Rabiulawal) saat sore hari dengan mengeluarkan gamelan Kanjeng Kyai Sekati dari tempat persemayamannya, Kanjeng Kyai Nogowilogo ditempatkan di Bangsal Trajumas dan Kanjeng Kyai Guntur Madu di Bangsal Srimanganti. Dua pasukan abdi dalem prajurit bertugas menjaga gamelan pusaka tersebut, yaitu prajurit Mantrijero dan prajurit Ketanggung. Di halaman Kemandungan atau Keben, banyak orang berjualan kinang dan nasi wuduk.
Lepas waktu sholat Isya, para abdi dalem yang bertugas di bangsal, memberikan laporan kepada Sri Sultan bahwa upacara siap dimulai. Setelah ada perintah dari Sri Sultan melalui abdi dalem yang diutus, maka dimulailah upacara Sekaten dengan membunyikan gamelan Kanjeng Kyai Sekati.
Yang pertama dibunyikan adalah Kanjeng Kyai Guntur Madu dengan gendhing racikan pathet gangsal, dhawah gendhing Rambu. Menyusul kemudian dibunyikan gamelan Kanjeng Kyai Nogowilogo dengan gendhing racikan pathet gangsal, dhawah gendhing Rambu. Demikianlah dibunyikan secara bergantian antara Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nogowilogo. Di tengah gendhing, Sri Sultan datang mendekat dan gendhing dibuat lembut sampai Sri Sultan meninggalkan kedua bangsal. Sebelumnya Sri Sultan (atau wakil Sri Sultan) menaburkan udhik-udhik di depan gerbang Danapertapa, bangsal Srimanganti, dan bangsal Trajumas.
Tepat pada pukul 24.00 WIB, gamelan Sekaten dipindahkan ke halaman Masjid Agung Yogyakarta dengan dikawal kedua pasukan abdi dalem prajurit Mantrijero dan Ketanggung. Kanjeng Kyai Guntur Madu ditempatkan di pagongan sebelah selatan gapuran halaman Masjid Agung dan Kanjeng Kyai Nogowilogo di pagongan sebelah utara. Di halaman masjid tersebut, gamelan Sekaten dibunyikan terus menerus siang dan malam selama enam hari berturut-turut, kecuali pada malam Jumat hingga selesai sholat Jumat siang harinya.
Pada tanggal 11 Maulud (Rabiulawal), mulai pukul 20.00 WIB, Sri Sultan datang ke Masjid Agung untuk menghadiri upacara Maulud Nabi Muhammad SAW yang berupa pembacaan naskah riwayat maulud Nabi yang dibacakan oleh Kyai Pengulu. Upacara tersebut selesai pada pukul 24.00 WIB, dan setelah semua selesai, perangkat gamelan Sekaten diboyong kembali dari halaman Masjid Agung menuju ke Kraton. Pemindahan ini merupakan tanda bahwa upacara Sekaten telah berakhir.

11.2          UPAYA MENJAGA KEARIFAN LOKAL
·        Sadar Budaya
Apabila situasi sadar budaya tersebut diupayakan lewat pendidikan, penyelenggaraan pendidikan harus memberikan ruang dan peluang bagi subjek-subjek yang terlibat di dalamnya masuk dalam dan terlibat pada proses tertentu yang sifatnya dinamik. Artinya, hal itu menjadi sebuah proses yang memungkinkan adanya perubahan manusia.
Sebagai bangsa yang bhineka, kita memiliki dua macam sistem budaya yang sama-sama harus dipelihara dan dikembangkan, yakni sistern budaya nasional Indonesia dan sistern budaya etnik lokal. Sistern budaya nasional adalah sesuatu yang relatif baru dan sedang berada dalam proses pembentukannya (Sedyawati, 1993/1994). Sistern ini berlaku secara umum untuk seluruh bangsa Indonesia, tetapi sekaligus berada di luar ikatan budaya etnik lokal yang mana pun. Nilai-nilai budaya yang terbentuk dalam sistem budaya nasional itu bersifat menyongsong masa depan, misalnya kepercayaan religius kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bukan kepada yang selain itu; pencarian kebenaran duniawi melalui jalan ilmiah; penghargaan yang tinggi atas kreativitas dan inovasi, efisiensi tindakan dan waktu; penghargaan terhadap sesama atas dasar prestasinya lebih daripada atas dasar kedudukannya; penghargaan yang tinggi kepada kedaulatan rakyat; serta toleransi dan simpati terhadap budaya suku bangsa yang bukan suku bangsanya sendiri.

·        Membangun Kebudayaan Bangsa
Kebutuhan untuk membangun kebudayaan bangsa, bagi kita, sesungguhnya dimulai semenjak kita berhasil mendirikan satu negara-bangsa. Dalam kaitan ini, kearifan lokal yang terkandung dalam sistem seluruh budaya daerah atau etnis yang sudah lama hidup dan berkembang adalah menjadi unsur budaya bangsa yang harus dipelihara dan diupayakan untuk diintegrasikan menjadi budaya baru bangsa sendiri secara keseluruhan.

11.3          PENGARUH LINTAS BUDAYA DAN GLOBALISASI
Pada masa lampau, dalam model dan kapasitas yang berbeda globalisasi telah sering terjadi. Kemapanan budaya lokal yang merupakan akumulasi dari budaya sekitar harus dimasuki oleh tradisi dan budaya Hindu pada sekitar abad ke-5 Masehi. Setelah melalui tawar menawar damai dalam proses akulturasi yang wajar tanpa rekayasa terbentuklah kebudayaan Hindu yang khas Indonesia, termasuk adopsi sistem pemerintahan dan budaya tulis menulis. Kemapanan kebudayaan lokal yang juga diwarnai budaya lain tersebut juga dimasuki tradisi muslim pada abad ke-13. Kompromi-kompromi dalam proses akulturasi telah melahirkan kebudayaan baru yang bernuansa Islam khas Indonesia. Pada abad ke 15-16 terjadi revolusi kebudayaan Hindu Budha ke Nusantara Hindu-Budha-Islam. Kekawin digubah menjadi macapat. Muncul Arab pegon dan Arab melayu. Abad 16 muncul kolonialisme Barat yang lama-lama mengubah warna budaya menjadi budaya Barat. Itu membuktikan bahwa budaya Jawa telah mewariskan strategi budaya ’ngeli tanpa ngeli’  - menghanyut tetapi tidak ikut benar-benar hanyut dalam menghadapi gelombang perubahan zaman.
Daya serap masyarakat terhadap budaya global lebih cepat dibanding daya serap budaya lokal. Bukti nyata dari pengaruh globalisasi itu, antara lain dapat disaksikan pada gaya berpakaian, gaya berbahasa, teknologi informatika dan komunikasi. Bahasa Jawa pun terkalahkan oleh Bahasa Betawi yang dianggap lebih gaul. Bahasa Jawa menjadi bahasa yang ke sekian di bawah Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia gaul. Dengan pergeseran waktu wanita-wanita Jawa yang terkenal pandai memasak mulai beralih pada makanan-makanan cepat saji (fastfood) yang bisa didapatkan di restoran. Pizza, spagetti, humberger, fried chicken dianggap lebih fashionable daripada makanan lokal. Media elektronik selalu kebanjiran film-film Mandarin, Bollywood, Hollywood, Mexico, dan lain sebagainya. Tempat belanja lokal tidak memenuhi kebutuhan, sehingga wisata belanja ke luar negeri membudaya, walaupun membutuhkan biaya mahal. Handphone dengan berbagai model dikerumuni banyak remaja Yogyakarta. Proses imitasi budaya asing akan terus berlangsung.

BAB III
PENUTUP

Akhirnya, jika nilai-nilai budaya tersebut berhasil ditanamkan lewat pendidikan yang berfungsi mencerdaskan bangsa, akan dihasilkan pula manusia-manusia yang berdaya guna dalam kehidupan manusia: manusia yang sadar budaya. Artinya, memiliki nilai-nilai budaya nasional yang transetnik dan bersifat menyongsong masa depan, serta mampu pula menghayati kearifan-kearifan lokalnya. Dengan jatidiri yang kuat, kita tidak akan jatuh dalam posisi epigonis bangsa lain atau terhindar dari posisi yang subordinatif. Paling tidak, demikian itu yang menjadi idealisasinya. Dengan cara demikian, semoga saja, kebudayaan benar-benar memberikan dan menjadi roh "pembangunan" yang sedang kita "rencanakan kembali" untuk dilaksanakan menuju masyarakat Indonesia Baru.

 Upaya yang dilakukan agar dapat menjaga kearifan lokal itu antara lain :
a.       Sejak dini diberikan pemahaman tentang budaya-budaya yang dimiliki di daerahnya baik secara umum atau khusus.
b.      Mereka yang belum tahu bahkan tidak tahu akan budayanya sendiri dibawa ke tempat-tempat yang dapat memberitahukan mereka akan budayanya seperti keraton, petilasan-petilasan atau pada saat upacara budaya itu dilaksanakan.
c.       Memberikan pengertian dan menarik perhatian pada generasi muda untuk dapat melestarikan budayanya.
d.      Mendorong dan memberi motivasi generasi muda agar dapat memperkaya pengetahuan akan budaya yang dimiliki di daerahnya.

Pengaruh lintas budaya dan globalisasi terhadap perubahan kearifan lokal nusantara antara lain :
a.       Budaya lokal semakin menghilang dan punah karena semakin banyaknya masyarakat yang tidak tahu akan budayanya sendiri.
b.      Karena masyarakat semakin banyak yang tidak tahu akan budayanya sendiri maka masyarakat menganggap bahwa budayanya tidak penting, mereka lebih mementingkan pekerjaan yang mendapatkan uang yang banyak sehingga mereka kurang terlalu antusias jika ada upacara-upacara adat atau budaya yang sedang dilaksanakan.

by : poespha 

Like This Article ?
 
 
Copyright © 2013 Catatan Kecil Puspa - All Rights Reserved
Design By Luhur Fatah - Powered By Blogger