tugas komunikasi interpersonal

PERANAN INTERPERSONAL SKILL DALAM KOMUNIKASI
 
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah “Komunikasi Interpersonal

Penyusun : 
Puspa Setianingtyas                     (09416244044)

PRODI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
TAHUN 2011

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pembahasan mengenai tigkatan komunikasi ini tidak terlepas dari pemahaman bahwa komunikasi merupakan suatu proses. Mulai dari komunikasi pribadi (personal communication) kemudian setahap demi setahap berkembang ke arah komunikasi massa. Dlam komunikasi pribadi ini seorang individu atau pribadi tersebutlah yang melakukan komunikasi. Komunikasi pribadi ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu komunikasi intrapribadi (intrapersonal communication) dan komunikasi interpribadi (interpersonal communication).
Dalam melakukan komunikasi interpribadi kita juga seharusnya memiliki kemampuan interpribadi dalam komunikasi (communication skill). Hal itu bertujuan agar komunikasi dapat berlangsung secara efektif dan agar pesan yang disampaikan oleh seorang pribadi dapat diterima secara tepat oleh pribadi lain. Oleh karena itu makalah ini akan membahas tentang peranan interpersonal skill dalam komunikasi.
B.  Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan komunikasi antarpribadi?
2.    Bagaimana pengaruh konsep diri dan atraksi interpersonal pada komunikasi interpersonal?
3.    Apa saja faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal?
4.    Apa yang dimaksud dengan interpersonal skill?
5.    Bagaimana cara mengasah interpersonal skill?
C.  Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui pengertian komunikasi antarpribadi
2.    Mengetahui pengaruh konsep diri dan atraksi interpersonal pada komunikasi interpersonal
3.    Mengetahui faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal
4.    Mengetahui pengertian interpersonal skill
5.    Mengetahui cara mengasah interpersonal skill.

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi adalah penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima melalui media komunikasi dengan tujuan agar tercapainya kesamaan persepsi antar dua pihak. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi langsung dimana komunikator dan komunikan berada pada satu ruang tertentu dan waktu tertentu. Komunikasi interpersonal menuntut berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi ini dibagi menjadi komunikasi diadik, publik dan kelompok kecil. Komunikasi inetrpersonal berlaku secara kontekstual bergantung kepada keadaan, budaya dan juga konteks psikologikal. Cara dan bentuk interaksi antara individu akan tercorak mengikuti keadaan-keadaan ini.
Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) merupakan komunikasi antara seorang individu dengan individu lain, dimana masing-masing dapat bertindak sebagai sumber maupun penerima pesan. Jadi, dalam komunikasi antarpribadi ini masing-masing orang yang terlibat dapat berperan aktif dalam proses komunikasi. Saat seorang karyawan diminta menghadap atasannya, untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan yang dibebankan kepadanya merupakan contoh komunikasi antar pribadi.
Komunikasi antarpribadi dapat terjadi seara formal maupun informal. Komunikasi antarpribadi secara formal merupkan komunikasi organisasi perorangan. Sedang komunikasi antarpribadi secara formal dan kelompok sudah terwakili dalam komunikasi kelompok. Di samping itu, penekanan komunikasi antarpribadi pada sharing of meaning (Barker: 131). Jadi meskipun dalam komunikasi antarpribadi ini membahas penyelesaiaan masalah atau pengambilan keputusan pesan yang dikounikasikan mengandung kadar perasaan dan emosi yang relatif besar.
Proses komunikasi antarpersonal dapat terjadi dalam bentuk verbal maupun noin verbal. Bentuk verbal dapat mengambil bentuk komunikasi tertulis atau lisan, sedang dalam bentuk non verbal dapat menggunakan simbol-simbol atau isyarat-isyarat yang dikirim kepada seseorang penerima pesan.
Persepsi adalah pengalaman tentang obyek, persitiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli indrawi. Hubungan sensai dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi indrawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi dan memori.
Pada tahun 1950-an, di kalangan psikolog sosial timbul aliran baru (disebut “New Look”) yang meneliti penaruh faktor-faktor sosial seperti pengaruh interpersonal, nilai-nilai kultural dan harapan-harapan yang dipelajari secara sosial pada persepsi individu, bukan saja terhadap obyek-obyek mati, tetapi juga pada obyek-obyek sosial. Lahirlah intilah persepsi sosial yang didefinisikan sebagai “the role of socially influence on the basic processes of perception”.
Akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an fokus penelitian tidak lagi pada faktor-faktor sosial yang mempengaruhi persepsi, tetapi pada obyek dan persitiwa sosial.Persepsi sosial kini memperoleh konotasi baru sebagai proses mempersepsi obyek-obyek dan persitiwa-peristiwa sosial. Untuk tidak mengaburkan istilah dan untuk mengaris bawahi manusia sebagai obyek persepsi, disini kita menggunakan istilah persepsi interpersonal. Persepsi pada obyek selain manusia kita sebut saja persepsi obyek.
Ada empat perbedaan antara persepsi obyek dengan persepsi interpersonal. Pertama, pada persepsi obyek, stimuli ditangkap oleh alat indra kita melalui benda-benda fisik seperti gelombang cahaya, gelombang suara, temperatur dan sebagainya. Pada persepsi interpersonal, stimuli mungkin sampai kepada kita melalui lambang-lambang verbal atau grafis yang disampaikan pihak ketiga.
Kedua, bila kita menanggapi obyek, kita hanya menanggapi sifat-sifat luar obyek itu, kita tidak meneliti sifat-sifat batiniah obyek itu. Ketika kita melihat papan tulis, kita tidak pernah mempersoalkan bagaimana perasaannya ketika kita amati. Pada persepsi interpersonal, kita mencoba memahami apa yang tidak tampak pada indra kita. Kita tidak hanya melihat perilakunya, kita juga melihat mengapa ia berperilaku seperti itu.
Ketiga, ketika kita mempersepsi obyek, obyek tidak bereaksi kepada kita, kitapun tidak memberikan reaksi emosional padanya. Dalam persepsi interpersonal, faktor personal anda dan karakteristik orang yang ditanggapi serta hubungan anda dengan orang tersebut menyebabkan persepsi interpersonal sangat cenderung untuk keliru. Lagipula kita sukar menemukan kriteria yang dapat menentukan persepsi siapa yang keliru, persepsi anda atau perepsi saya. Keempat, obyek relatif tetap, manusia berubah-ubah.

B.  Pengaruh Konsep Diri dan Atraksi Interpersonal pada Komunikasi Interpersonal
Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Sukses komunikasi interpersonal banyak bergantung pada kualitas konsep diri anda, positif atau negatif. Sebagai peminat komunikasi, sebaiknya kita mampu mengidentifikasikan tanda-tanda konsep diri yang positif dan negatif.
Orang yang memiliki konsep diri positif ditandai dengan lima hal:
a.    Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah
b.    Ia merasa setara dengan orang lain
c.    Ia menerima pujian tanpa rasa malu
d.    Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat
e.    Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.
Dalam kenyataan, memang tidak ada orang yag betul-betul sepenuhnya berkonsep diri negatif atau positif, tetapi untuk efektivitas komunikasi interpersonal, sedapat mungkin kita memperoleh sebanyak mungkin tanda-tanda konsep diri positif. Kita agak membicarakan konsep diri yang positif, karena dari konsep diri positiflah lahir pola perilaku komuniasi interpersonal yang positif pula, yakni melakukan persepsi yang lebih cermat dan mengungkapkan peunjuk yang membuat orang lain menafsirkan kita dengan cermat pula.
Sudah diketahui bahwa pendapat dan penilaian kita tentang orang lain tidak semata-mata berdasarkan pertimangan rasional. Kita juga makhluk emosional, karena itu ketika kita menyenangi orang seseorang, kita juga cenderung elihat segala hal yang berkaitan dengan dia secara positif. Sebaliknya jika kita membencinya, kita cenderung melihat karakteristiknya secara negatif. Komuikator yang dipandang menraik karena kesamaan, kedekatan, daya tarik fisik lebih efektif dalam mempengaruhi perubahan pendapat dan sikap. Atraksi tidak saja mempengaruhi keputusan kita dalam bidang politik, tetapi juga menentukan pola komunikasi interpersonal.
Komunikasi ineterpersonal dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan diantara komunikan menjadi rusak. Komunikasi intepersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubugan interpersonal barangkali yang paling penting. Setiap kali kita melakukan komunikasi, kita bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan, kita juga menentukan kadar hubungan interpersonal bukan hanya menentukan content tetapi juga relationship.

C.  Faktor yang Menumbuhkan Hubungan Interpersonal dalam Komunikasi Interpersonal
Pola komunikasi interpersonal mempunyai efek yang berlaian pda hubungan interpersonal. Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering orang melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain, makin baik hubungan mereka. Yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan, tetapi bagiman komuniksi itu dilakukan. Bila antara anda dengan saya berkembang sikap curiga, makin sering anda berkomunikasi dengan saya makin jauh jarak kita.
Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal, faktor percaya adalah yang paling penting. Bila saya percaya kepada anda, bila perilaku anda dapat saya duga, bila saya yakin anda tidak akan menghianatai atau merugikan saya, maka saya akan lebih banyak membuka diri saya kepada anda. Sejak tahap yang pertama dalam hubungan interpersonal, sampai tahap kedua percaya menentukan efektivitas komunikasi.
Sikap suportif adalah sikap yang megurangi sikap defensif dalam komunikasi. Orang bersikap defensif bila ia tidak menerima, tidak jujur dan tidak empatis. Sudah jelas dengan sikap defensif omunikasi interpersonal akan gagal, karena orang defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi daripada memahami pesan orang lain. Sikap terbuka amat besar oengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Lawan dari sikap terbuka adalah dogmatis, sehingga untuk memahami sikap terbuka kita harus mengidentifikasikan terlebih dahulu karakteristik orang dogmatis.
Agar komunikasi interpersonal yang kita lakukan melahirkan hubungan interpersonal yang efektif, dogmatisme harus digantikan dengan sikap terbuka. Bersama-sama dengan sikap percaya dan sikap suportif, sikap terbuka mendorong timbulnya saling pengertian, saling menghargai dan paling penting saling mengembangkan kualitas hubungan interpersonal.

D.  Pengertian Interpersonal Skill
Interpersonal skill adalah skill dalam berinteraksi dengan orang lain, baik dalam hal berkomunikasi, menyampaikan pendapat, hingga menangani orang lain. Interpersonal skill merupakan salah satu soft skill yang terpenting untuk dimiliki di dunia kerja. Tanpa interpersonal skill yang mumpuni, maka karir akan sulit menanjak. Bahkan, buruknya interpersonal skill juga ditemukan menjadi penyebab kegagalan manajer. Maka, skill ini mutlak harus dimiliki oleh seorang manajer.
Profiles International menemukan lima indikasi utama kegagalan manajer, dan yang menempati posisi pertama adalah skill interpersonal dan komunikasi yang buruk. Laporan yang disusun oleh Profiles International menunjukkan bahwa manajer yang berisiko gagal karena interpersonal skill buruk menunjukkan beberapa indikasi berikut:
a.    Selalu terlibat konflik dengan seseorang atau kelompok di dalam organisasi
b.    Punya reputasi yang otoriter, arogan ataupun tidak sensitif
c.    Bertindak sebagai kuasa utama di organisasi
d.    Menghindari komunikasi langsung dengan beberapa atau semua rekan kerja
e.    Lebih menyukai mengirimkan berita buruk lewat email dibandingkan dengan bicara langsung
f.      Menunjukkan perilaku yang melawan terhadap rekan kerja yang juga berusaha mencapai tujuan yang sama
g.    Menjadi target dari suatu usaha sabotase.
Prinsip interpersonal skill antara lain:
a.    Kemampuan, kesanggupan, kepandaian atau kemahiran seseorang dalam mengerjakan sesuatu
b.    Memiliki konsep diri dan berkepribadian yang kuat
c.    Meningkatkan potensi diri menjadi pribadi yang mempunyai kompetisi di bidangnya
d.    Percaya diri dan mengasah kemampuan berkomunikasi
e.    Berpenampilan menarik dan menyenangkan
f.      Meningkatkan human relations dalam kehidupan bermasyarakat dan organisasi
g.    Meningkatkan kemampuan menjadi pemimpin dan dapat bekerjasama dalam team.
Menghadapi orang dengan interpersonal skill yang buruk, maka tidak banyak yang bisa dilakukan selain memahami perilaku dan kebiasaannya secara lebih baik. Seandainya ia memicu konflik, jangan sampai ikut emosional sebaliknya selesaikan konflik dengan kepala dingin dan pemikiran yang logis. Umumnya, orang dengan interpersonal buruk tidak akan bisa memimpin secara efektif, sehingga hasil pekerjaannya juga tidak maksimal. Mungkin bisa mengambil langkah berani misalnya seperti membantu manajer tersebut mengerti bahwa perilakunya menimbulkan dampak buruk bagi orang di sekitarnya. Namun ini cukup sulit karena belum tentu ia mau menerima kritik ataupun pendapat dari orang lain.
Alternatif lainnya mungkin perusahaan harus menyediakan pelatihan interpersonal skill, demi meningkatkan interpersonal skill orang-orang dalam organisasinya. Sehingga, ini juga nantinya diharapkan dapat mendorong interaksi jadi lebih baik, kerjasama lebih efektif, sehingga tujuan dan kinerja yang diinginkan dapat tercapai. Skill ini merupakan skill yang mutlak dimiliki oleh manajer, karena ia mengelola orang lain. Interpersonal merupakan sesuatu yang bisa dipelajari tiap orang. Kuncinya adalah belajar untuk berinteraksi dengan orang, berkomunikasi, memahami orang lain, dan belajar untuk mendengar. Berusahalah untuk terbuka dan menerima feedback dari orang lain, dengan demikian maka secara bertahap skill interpersonal akan semakin dikuasai.

E.   Cara Mengasah Interpersonal Skill
Interpersonal skill merupakan salah satu soft skill yang banyak diminta oleh perusahaan untuk berbagai jabatan dan posisi. Interpersonal skill bukan merupakan bagian dari karakter kepribadian yang bersifat bawaan, melainkan merupakan ketrampilan yng bisa dipelajari. Interpersonal skill yang baik dapat dibangun antara lain dari kemampuan mengembangkan perilaku dan komunikasi yang asertif dan efektif.
Asertif secara sederhana berarti mampu secara aktif menyatakan gagasan, harapan atau perasaan secara langsung dan apa adanya tanpa menyerang atau merugikan orang lain. Berlaku asertif yang tampaknya mudah ini seringkali menjadi ekstra sulit dalam situasi konflik atau situasi dimana terjadi perbedaan kepentingan antar individu dalam suatu kelompok atau organisasi.
Prinsip dasar perilaku atau komunikasi yang asertif antara lain adalah menghargai hak orang lain untuk menyampaikan gasan atau pendapat, untuk didengarkan dan diperlakukan dengan penuh respek serta untuk berbeda pendapat. Perilaku atau komunikasi asertif membntu kita untuk mendapatkan citra positif tentang diri sendiri dan orang lain, mengembangkan saling respek dengan orang lain, membantu kita mencapai tujuan, melindungi diri kita agar tidak dimanfaatkan oleh orang lain sekaligus tidak melukai orang lain.
Perilaku atau komunikasi asertif bertujuan untuk mencapai in-win solution, dimana masing-masing pihak yang beronteraksi dapat merasakan kepentingannya terakomodir tanpa merasa dikalahkan atau berkurang harga dirinya. Orang-orang yang asertif biasanya ekspresif dan jujur, bila berbicara langsung ke inti permasalhan, tidak mudah terpancing emosinya, berorientasi pada solusi serta dihargai dan menghargai orang lain. Peganglah prinsip menghargai orang lain dengan menguasai bahasa tubuh, ekspresi wajah dan intonasi ketika berkomunikasi secara asertif. Bersikap asertif sangat berguna dalam membangun interpersonal skill secara umum, tetapi penerapannya tetap harus selektif karena mungkin tidak bisa berhasil untuk semua kasus.
Salah satu bidang kegagalan manajer adalah dari buruknya interpersonal skill. Kurangnya interpersonal skill mengakibatkan manajer tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan anak buah maupun rekan kerjanya, sehingga tentu ini mempengaruhi semangat tim, yang berpotensi menurunkan produktivitas mereka. Parahnya lagi, jika terjadi konflik antara manajer dan anak buah, maka ini dapat memunculkan perasaan frustrasi pada anak buah, sehingga memicu turnover. Penguasaan interpersonal skill yang memadai memungkinkan manajer untuk dapat menangani karyawannya secara lebih efektif. Komunikasi akan berjalan lebih lancar, tercipta hubungan yang harmonis dan engagement dengan karyawan, sehingga meningkatkan produktivitas karyawan di kantor.
Kunci utama dalam menguasai interpersonal skill adalah menekan ego pribadi. Perbedaan antara individu akan selalu ada, entah itu perbedaan pandangan, perbedaan kepentingan, dan lainnya. Dengan menekan ego pribadi, maka dapat belajar untuk mencoba memahami orang lain. Setiap orang punya keunikan masing-masing, dan Anda harus menerima fakta tersebut.
Knowledge juga punya peranan penting dalam berinteraksi. Ketika Anda berusaha untuk mendekati orang lain, Anda dapat memanfaatkan knowledge yang Anda miliki terkait dengan keunikan yang dimiliki orang tersebut. Contohnya Anda berkenalan dengan seorang musisi, supaya interaksi berjalan dengan baik maka Anda dapat memulai pembicaraan seputar musik. Intinya adalah membangun komunikasi yang dapat menciptakan jalinan hubungan baik dengan orang lain. Pembicaraan tersebut akan berkesan buat dia.
Meskipun berbicara penting, namun listening justru lebih penting lagi, karena pada dasarnya orang ingin diperhatikan. Namun ingat, dengarkan mereka secara tulus. Mendengar dengan baik dan tulus memungkinkan Anda untuk merespon dengan tepat. Respon yang tepat memunculkan pembicaraan dan diskusi yang hidup. Perhatikan juga bahasa non-verbal Anda. Kadang, bahasa non-verbal dapat menyampaikan lebih banyak dibandingkan dengan bahasa verbal. Ketika Anda mengucapkan sesuatu, bicaralah dengan tulus. Meskipun mungkin secara verbal Anda mengungkapkan A, padahal hati Anda adalah B, bahasa non-verbal Anda seringkali menyampaikan clue-clue yang sebenarnya. Jaga jangan sampai bahasa non-verbal Anda terlihat menyerang atau meremehkan orang lain.
Perhatikan juga bahasa non-verbal Anda. Kadang, bahasa non-verbal dapat menyampaikan lebih banyak dibandingkan dengan bahasa verbal. Ketika Anda mengucapkan sesuatu, bicaralah dengan tulus. Meskipun mungkin secara verbal Anda mengungkapkan A, padahal hati Anda adalah B, bahasa non-verbal Anda seringkali menyampaikan clue-clue yang sebenarnya. Jaga jangan sampai bahasa non-verbal Anda terlihat menyerang atau meremehkan orang lain.
Salah satu cara untuk mengasah interpersonal skill Anda adalah dengan memperbanyak bertemu dengan orang-orang baru. Hal ini karena interpersonal skill yang terasah membutuhkan suatu proses dan waktu yang panjang. sehingga harus selalu dilatih. Semakin banyak Anda menjalin hubungan dengan orang lain, maka interpersonal skill Anda akan semakin terasah.
Salah satu hambatan dalam menjalin komunikasi di awal adalah `judgement`. Ketika judgement sudah bermain, maka kita punya persepsi dan kesan mengenai orang lain, yang mungkin negatif. Oleh karena itu, jangan biarkan judgement menahan Anda untuk memulai komunikasi. Berikan kesempatan pada orang lain untuk berinteraksi dengan Anda.
Selain itu, jadilah orang yang open minded. Belajarlah untuk menerima dan menghargai pendapat orang lain. Jangan langsung menolak dengan keras `knowledge` baru yang berbeda dengan pengetahuan yang Anda miliki. Berkomunikasilah dengan serius, namun santai. Jika harus berdebat, lakukan dengan saling menghargai dan sopan.
Latih diri Anda hingga punya sikap empati. Empati adalah sikap dimana Anda dapat menempatkan diri seolah-olah Anda berada di posisi lawan bicara. Bayangkan seolah-olah Anda berada di situasinya., dan berikan respon yang tepat. Empati Anda terhadapnya akan menciptakan suatu hubungan yang positif. Empati ini harus terus menerus dilatih. Biasanya, orang yang punya Emotional Quotient (EQ) tinggi, lebih pandai dalam berempati.
Kemudian, interpersonal skill Anda sangat diuji ketika terjadi konflik. Anda dapat menjadi mediator dari pihak-pihak yang berkonflik. Kumpulkan mereka, dan bantu untuk mengatasi konflik yang mengemuka. Lakukan dengan kepala dingin, supaya komunikasi berjalan lancar, dan masalah bisa diselesaikan dengan baik. Anda harus bersikap netral sekaligus bijak untuk dapat mengambil peran ini.
Demikian adalah sejumlah langkah-langkah yang dapat Anda tempuh, untuk dapat mengasah interpersonal skill. Dengan mempraktekkan langkah-langkah diatas, maka perlahan-lahan Anda akan dapat mempunyai interpersonal skill yang sempurna. Yang jelas, perlu diingat bahwa mempelajarinya butuh proses yang panjang, dan merupakan lifetime process.

BAB III
PENUTUP

Komunikasi adalah penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima melalui media komunikasi dengan tujuan agar tercapainya kesamaan persepsi antar dua pihak. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi langsung dimana komunikator dan komunikan berada pada satu ruang tertentu dan waktu tertentu. Komunikasi interpersonal menuntut berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi ini dibagi menjadi komunikasi diadik, publik dan kelompok kecil. Komunikasi inetrpersonal berlaku secara kontekstual bergantung kepada keadaan, budaya dan juga konteks psikologikal. Cara dan bentuk interaksi antara individu akan tercorak mengikuti keadaan-keadaan ini.
Interpersonal skill merupakan salah satu soft skill yang bayak diminta oleh perusahaan utuk berbagai jabatan dan posisi. Interpersonal skill bukan merupakan bagian dari karakter kepribadian yang bersifat bawaan, melainkan merupakan ketrampilan yang bisa dipelajari. Interpersonal skill yang baik dapat dibangun dari kemampuan mengembangkan perilaku dan komunikasi yang asertif dan efektif.

DAFTAR PUSTAKA
Haryani, Sri. 2001. Komunikasi Bisnis. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN.
Ibrahim dan Kusmintardjo. 1997. Komunikasi utnuk Difusi Inovasi. Bahan Pelatihan Manajemen Pendidikan bagi Kepala SMU se-Indonesia di Surabaya. Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SMU Dikmenum.
Rakhmat, Jalaluddin. 1985. Psikologi Komunikasi. Bandung: Penerbit Remadja Karya.
Wirasasmita, Yuyun. 1996. Komunikasi Bisnis dan Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

by : poespha